Pesan Dalam Jawaban

Pesan Dalam Jawaban


Sesungguhnya apa yang saya tulis di sini hanyalah jawaban dari beberapa pertanyaan yang mampir ke posting “Diam di Bumi”. Namun, bagi saya, pertanyaan tersebut cukup penting untuk diulas dalam sebuah posting terpisah. So, here it is…

Sebuah pertanyaan dari Roi: adakah gunanya menunda? Jika dianalogikan ke dokter gigi, pilih dokter gigi yang bekeja cepat? Atau lambat? Ia bertanya. Karena barangkali sakitnya sama. Bagi saya, pemikiran tersebut merupakan sebuah ‘jebakan klasik’, persis dengan contoh logika perokok yang saya tulis dalam posting.

In a way, saya selalu merasa beresonansi kuat dengan pepatah setengah serius setengah bercanda yang berkata: "Man plans, God laughs". Manusia boleh berencana, Tuhan tertawa. But the same divine power had supplied us with survival instinct and also awareness to evolve. So what do we do?

Mengikuti penyelidikan dan pengamatan Graham Hancock dalam bukunya, saya pun tak luput ikut berpikir: hadirnya monumen misterius seperti Sphinx dan Macchu Picchu, akankah kita mengabaikannya begitu saja? Sudikah kita untuk berkontemplasi sejenak dan merasakan pesan yang dibawanya?

Sebuah peradaban manusia yang sangat maju diindikasikan pernah hadir di muka Bumi, lantas menghilang nyaris tanpa bekas, tanpa warisan, tanpa sejarah, tanpa catatan. Manusia lalu bergulat dalam amnesia panjang, merangkak kembali dari masa primitif. Kehilangan hubungan dengan sejarahnya sendiri. Akankah kita mengulang hal yang sama?

Saya merasa, di sanalah barangkali gunanya "penundaan". Karena dalam usaha tersebut, kita berbuat jauh lebih dari sekadar menunda, tapi kita semua berusaha eling, sadar, menyadari apa yang kita telah perbuat dan apa yang kita bisa lakukan bagi Bumi. Bagi saya, itulah makna evolusi. Itulah maknanya menjadi manusia.

Lalu, merespons komentar Daus, saya sepakat bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelamatkan Bumi, dan sebaiknya kita bergerak bersama, dari berbagai lini. Namun upaya "garis keras" jika tidak disokong oleh perubahan fundamental dari masing-masing individu, menurut saya, akan superfisial dan bagaikan percik kembang api. Menyala tapi tak 'panas'. Meriah tapi tak 'berisi'.

Banyak aktivis yang saya amati, mereka berteriak-teriak untuk konservasi lingkungan dan pengubahan kebijakan, tapi dalam hidup keseharian, mereka tidak memilah sampah, tidak mengurangi plastik, tidak mengurangi konsumsi daging, tidak berhemat, dsb. Tenggelam dalam payung besar bahwa negara majulah yang patut dipersalahkan. Penghematan adalah jatah mereka, bukan jatahnya negara berkembang atau negara miskin. Namun tidakkah ini jebakan klasik berikutnya? Kembali kita melepaskan kekuatan perubahan dari tangan kita sendiri dan kembali menunjuk pihak lain untuk berubah.

Memikirkan emisi Amerika, Jepang, Cina, India, dan aneka negara industri lainnya… memikirkan pemerintah kita yang seolah tak berdaya menghadapi illegal logging, pembakaran hutan, perusakan lingkungan… bukanlah hal yang tak berguna. Namun jika kita hanya berhenti sampai di sana, dan tak mengubah diri kita sendiri, maka sampai kapan pun kita seperti kawanan tikus putih yang sibuk berlari dalam roda. Sibuk, tapi tak ke mana-mana. Perubahan yang paling nyata adalah perubahan yang bisa kita lakukan pada diri kita sendiri. Suarakanlah perubahan, tapi jangan lupa bersuara untuk diri kita sendiri.

Rajendra K. Pachauri dan IPCC telah melansir tiga poin penting untuk mengurangi pemanasan Bumi: Stop eating meat. Be a frugal shopper. Ride a bicycle. Tiga hal yang tampak sederhana. Namun jika kita melakukannya, individu demi individu, maka segala kebijakan dan roda industri akan beradaptasi dan mengikuti. Inilah yang kerap kita lupakan. Kita berperang melawan organisasi besar dan pemerintah, tapi seringkali kita lupa bahwa jika organisasi dan institusi besar itu dilucuti, yang ada hanyalah individu-individu. Sama dengan Anda dan saya. Sama-sama bernapas. Sama-sama makan. Sama-sama bagian tak terpisahkan dari Bumi ini.

Itulah pesan utama dari blog ini sejak hari pertama peluncurannya. Sungguh. Hanya itu.

Indonesia - RRI :


Situs auto followers Twitter GRATIS tanpa SPAM! Klik mughunsa.blogspot.com. Dapatkan ribuan followers untuk akun Twitter Anda, cocok buat menaikan popularitas maupun menambah jualan online Anda!

0 Response to "Pesan Dalam Jawaban"

Posting Komentar